+ Turun dimana mbak?
- Stasiun Gambir.
+ Sudah lama di Jakarta?
- Belum terlalu lama. Tetapi cukup untuk menghafal rute busway disini.
+ Mbaknya dari Jawa ya. Aslinya mana?
- Saya dari Jogja.
+ Disini kuliah?
- Ah, saya sudah ndak kuliah. Disini saya kerja.
+ Wah, kecil-kecil sudah kerja ya…
Percakapan ini sering saya alami dalam perjalanan kereta dari Jogja ke Jakarta. Biasanya terjadi beberapa menit sebelum kereta masuk di stasiun Bekasi. Tak lebih karena orang-orang mulai bergeliat dan bersiap turun.
Ya, dua pertanyaan yang kerap tertuju pada saya : asal daerah dan aktivitas di Jakarta. Mula-mula, saya menganggap pertanyaan itu biasa saja. Tetapi kok ya hampir dalam tiap perjalanan selalu ditanyai pertanyaan yang serupa.
Mencoba mencermati. Logat percakapan saya memang terdengar sangat Jawa. Teman saya pernah bilang, “Kamu sudah 3 tahun di Jakarta, medhokmu nggak ilang-ilang lo.”
Ah, biarlah. Saya memang tidak berniat mengubah logat ini. Bahkan di tempat kerjapun berlaku bahasa Jawa menjadi bahasa kebangsaan. Meskipun, yahh sebenarnya terlihat sangat Jawasentris, tapi kenyataannya memang begitu.
Kalau deadline sedang mendera, misuh sangat nyaman untuk diucap mulut dan menggelitik kuping. Sehingga umpatan dalam bahasa Jawa itu acapkali membuat urat bibir bergerak untuk tertawa.
Lalu, orang asing itu keheranan mengetahui bahwa saya sudah bekerja. Mereka selalu mengira saya masih kuliah. Seringkali mengumpat dalam hati, “Yang salah bukan saya kenapa sudah bekerja. Tetapi perusahaan donk yang mau mempekerjakan wajah anak-anak kayak saya.”
Penampilan saya yang tak bisa lepas dari tas ransel, celana jins dan sepatu kets, mungkin jadi penyebabnya. Saya nyaman dengan penampilan itu. Beruntung di tempat kerja saya boleh memakai baju sesukanya. Tak ada seragam, tak ada jadwal. Presensi sesukanya asal setor garapan tepat waktu. Lho, surga dunia sepertinya.
Yah, begitulah. Gerbong kereta terhenti di stasiun Gambir. Berarti sebentar lagi saya harus rela bersahabat dengan segala keruwetan Jakarta. Dan saya selalu lupa menanyakan nama rekan yang duduk di samping saya itu. Sepertinya sudah mulai larut dengan zona sibuk Batavia.
+ Turun dimana mbak?
- Stasiun Gambir.
+ Sudah lama di Jakarta?
- Belum terlalu lama. Tetapi cukup untuk menghafal rute busway disini.
+ Mbaknya dari Jawa ya. Aslinya mana?
- Saya dari Jogja.
+ Sudah punya pacar?
- Oh, ndak… Tapi saya sudah bersuami!
+Hah?! Kecil-kecil sudah menikah?
wkwkwkwkwkk,…
-oh, ndak,.. Tapi saya sudah bersuami!
+Hah?! Kecil-kecil sudah menikah?
sambil bergumam dalam hati,.. padahal misuh “jangan salahkan saya yang kecil-kecil sudah menikah, kenapa juga menikahi wajah anak-anak kayak saya”
wkwkwkwkwkk,… seru,.. masbro Swiss ndagel po nglawak,.. hahahahaha
Kang Swiss iku sok nglucu. Dadine malah crispy…hhihihi, latian sek konoh Kang!
Iki kok skenarioku diganti ki piye je?
Jenenge sopo hartono kui? Bpkmu mi? Jenengmu bukane ismi wahid to?
Hehe, iyo jenenge babeku…ben lucu ae…:P