Perempuan ini mengubah anggapanku pada seorang bidan. Kenyataannya, mereka mampu menambal kekurangan dokter obgyn yang kerap para profesional medis ini mengabaikannya.
Adalah Robin Lim, mengabdikan dua puluh tahun hidupnya untuk melayani ibu hamil dan bayi di desa Nyuh Kuning, Ubud-Bali. Apa yang menarik dari perempuan sepuh, nenek sekaligus pahlawan CNN 2011 ini? Ya, tak lain karena ide persalinan lembutnya. Istilah ‘Gentle Birth‘ barangkali lebih akrab.
Dibawah naungan Yayasan Bumi Sehat, istri dari seorang pembuat film dokumenter William Hemmerle ini mengabdi. Yayasan yang ia bangun sejak pertama jatuh cinta akan Bali. Sempat kagum dengan simbol klinik nirlaba ini: seorang ibu dengan kedua kaki menganga lalu tepat pada alat vitalnya keluar seorang bayi mungil. That’s perfect symbol!
Bukan. Bukan Robin Lim yang ingin kutulis. Sudah banyak media memuat dan mengulas pengabdiannya pada masyarakat kurang mampu. Tapi, bagaimana perempuan kelahiran Arizona limapuluh enam tahun lalu ini memberi ide.
Berangkat dari kalimat yang ia ucap pada ulasan acara di sebuah stasiun televisi nasional. “Tiap ibu menginginkan persalinan normal. Siapa yang rela perutnya diiris. Kenyataannya, ibu sering kehilangan kepercayaan dirinya untuk melahirkan normal,” ujar Robin.
Bedah sesar -nggak tahu gimana nulisnya- (Sectio caesarea) nampaknya menjadi opsi populer untuk persalinan. Tak sakit di awal namun nyeri kemudian. Studi WHO menyebutkan separo kasus persalinan di Cina diselesaikan dengan bedah ringan ini. Tak kalah, begitu juga dengan Amerika Serikat yang sepertiga kasus persalinannya memanfaatkan opsi sectio. Sedangkan di Asia, tindak bedah ini menunjuk angka 27 persen. Betapa pilihan ini menjadi sangat diminati.
Saya sangsi jika angka-angka yang mengagumkan itu berasal dari pilihan ibu secara mantap. Yang lebih sering terjadi adalah pihak rumah sakit -termasuk dokter obgyn- menawarkan pembedahan ini kepada ibu hamil.
Untuk kasus-kasus tertentu, sesar memang menjadi penolong. Namun bukan satu-satunya dewa penyelamat. Bayangkan, dengan dalih si Ibu sudah tak kuat lagi menahan sakit pada menit-menit kontraksi, dokter dengan mudahnya menawarkan pembedahan. Siapa yang diuntungkan? Ah, bahkan persalinan dengan cara ini sudah menjadi ladang bisnis rumah sakit. Tingkat intervensi yang tak perlu.
Tiba-tiba teringat pengakuan seorang kawan aktivis kesehatan. Di Bali, dokter rumah sakit sangat gampang memberi vonis bedah sesar pada ibu melahirkan. Maka yang terjadi, tiap ibu yang siap melahirkan di rumah sakit, entah negeri atau swasta harus terbius dengan biaya yang aduhai itu. Konsekuensinya jelas, mereka harus menyediakan banyak uang di kantong. Saya tidak bisa memberi angka. Pun, saya juga tak mampu menguji kesahihan pernyataan ini.
Tapi bayangkan saja ketika ibu harus tidur di rumah sakit menunggui bayinya agar selalu bisa menyusui dan mengganti popok. Bayi itu tak bisa segera ia bawa pulang lantaran si ibu belum membayar biaya rumah sakit. Sungguh naif.
Belum lagi trauma persalinan. Si ibu ditempatkan dalam ruang bedah dengan alat-alat bersuara bising dan tajam yang begitu mengerikan. Silaunya lampu bedah. Pakaian hijau gelap yang rasa-rasanya meneror begitu rupa. Lalu beberapa profesional medis seolah mengepung dan sebentar kemudian menyergap si Ibu. Dan terakhir, ruang bedah super dingin itu menjadi penjara yang memerangkap si Ibu.
Tidak. Saya tidak menghakimi profesional medis yang berbuat demikian. Banyak dokter yang dalam pengabdiannya mengutamakan persalinan normal. Dan mereka-mereka ini menurut saya ‘telah tercerahkan’.
Apa yang dikatakan Robin sangat rasional. “Mereka terkadang mengabaikan seni mencintai,” ujarnya. Bahwa ibu-ibu yang siap melahirkan mestinya diperlakukan dengan kelembutan. Dan ‘bahan’ inilah yang seringkali tak disertakan para profesional medis. Mereka justru menempatkan ibu bersalin sebagai pasien yang datang ke rumah sakit semata-mata hanya memerlukan penanganan kedokteran. Ditindak secara medis, lalu selesai.
Stres tak jarang dialami ibu saat menghadapi persalinan. Dengan kelembutan itu, maka hormon oxytocin bekerja. Dan ini memudahkan kerjasama ibu dan bayi ketika melahirkan.
Tak kalah penting hubungan yang baik antara ibu-bayi dengan ayah. Hubungan yang berkualitas diantaranya akan meningkatkan hormon ini. Jangan sesekali mengesampingkan peran ayah dalam proses kehamilan hingga kelahiran itu.
Seorang bidan yang berdedikasi lebih luwes pergi kemana saja untuk memberikan pertolongan ini dibanding dokter. Bahwa dukungan yang harus selalu diberikan oleh bidan adalah meyakinkan pada si Ibu: every process is normally thing. You can do that because you are strong mom. Be brave!
Masih lekat erat ketika seorang bidan mengatakan, “Memang sakit Bu. Bukankah rasa sakit ini yang ditunggu-tunggu semua ibu?” Demikian si bidan itu tersenyum padaku.
Dan tak bisa disangkal lagi bahwa seni mencintai itu sangat penting. Interaksi positif antara bidan dan si Ibu akan menciptakan kepercayaan diantaranya. Informasi yang tak pernah putus diperlukan demi menjaga ibu dan bayinya sehat. Juga bidan yang selalu menempatkan posisinya setara dengan si Ibu. Bukan sebagai pasien namun interaksi antara konsumen dan profesional medis.
Kalau saja bidan-bidan disekitar kita berlaku demikian, ibu hamil dapat menentukan pilihan yang rasional. Termasuk logis dalam memilih biaya kelahiran.
Maka, mari bersalin tanpa abai dengan seni mencintai. Karena kelahiran yang penuh kasih akan menjadikan bayi mengerti akan kelembutan.
-selalu salut untuk Robin Lim dan bidan-bidan desa dengan dedikasinya. berjuang untuk persalinan yang rasional/ 29 Januari 2012-
Ketika melahirkan, saya didampingi 2 bidan (yg terus memberi support), 5 perawat (bergantian memijat/mengusap dan membawakan makanan dan minuman) dan Obgyn yg tiap jam “melongok” ke kamar bersalin. Puji Tuhan!
Ups, begitukah? waktu persalinan, saya juga sempet ditinggal sama Obgyn itu sekejab. Karena nafasnya selalu salah. Lalu si bidan-lah yang menunggu dengan sabar dan ngajarin gimana cara mengejan dan bernafas yang benar. Hehehe, si Obgyn sedang sibuk!
Betul, persalinan normal memang penting. Bukan Operasi. Sekedar sharing. Kebetulan istri saya dua kali melahirkan dg persalinan normal. Alasnya simpel, pengen nyaman dan tidak mau di operasi. Dr awal niat tidak mau operasi karna sudah tidak percaya niat dokter. Banyak trik deh mereka untuk memberi saran operasi. Pas anak kedua malah kami niatin melahirkan di rumah. Banyak yg tdk mendukung. Jaman udah begini kok melahirkan di rumah. Enak kok, tdk tegang. Syaratnya tp kondisi semua normal.
Puji tuhan istri saya dibantu dua bidan bisa melahirkan dirumah. Malah banyak yg kaget tahu anak saya jstru lahirnya 4,2kg dan tanpa jahitan. Temannya istri saya banyak yg dr dokter, mereka sampai bilang sambil bercanda…ini bkn untuk dicontoh, lahir di rumah, anak gede dan tanpa jahitan. Proses setelah lahiran pun sama juga seperti di rumah sakit. Tidak butuh banyk alat, paling perlak yg agak lebar selebihnya peralatan bidan. Di Belanda pun masih banyak yg melahirkan di rumah, dibantu bidan kenapa di kita tidak bisa.. Terima kasih.
Iya mas Evan. Rasa-rasanya kok dokter jaman sekarang mudah banget kasih opsi bedah. Meskipun masih ada yang pro persalinan normal. Sangking geregetan ngeliat Obgyn kayak gitu, sampai-sampai menuduh mereka mencari praktek aman, cepat plus bisa mendatangkan duit banyak.
Eh, menarik lo persalinan di rumah. Homy, comfort, keluarga juga gak ribet harus bolak-balik ke rumah sakit, si Ibu bahkan bisa super relax. Dan hanya bidan yang bisa begini. Apalagi mereka sudah banyak yang mendapatkan label ‘bidan delima’ (semoga bukan hanya sekedar predikat yang menempel untuk prestis saja). Kalau ibu dan bayi dalam keadaan normal, mengapa ragu mencoba. Alternatif persalinan yang menarik…:)
Barangkali midwife di Indonesia harus mau untuk update informasi medis. Tidak sungkan untuk menempatkan ibu dan bayi sebagai konsumen yang setara. Dan yang sangat penting, bidan harus mau belajar seni mencintai dalam persalinan. GBU mas Evan…:)
Tp modus yg sekarang jg banyak bidan2 kerjasama dg rumah sakit2 kecil untuk operasi. Dan pasien yg kena kadang yg kurang mampu. Bidan msh jaminan kok. sebetulnya kayak terlilit tali pusar pun tdk harus operasi. Toh kl di rm sakit yg “kerja” pas persalinan ya bidan. dokter cm bagian2 trahir msl gunting tali pusar. apalagi kl dokternya cowo. yg penting jg pas persalinan didampingin teman/saudara/ortu yg cukup mengerti jg bs buat ksh masukan atau nguatin si ibu.
Yes yuuuk. Setuju banget..:) -eh, baru tahu kalo ada dokter yang cuman kerja di bagian2 terakhir aja. Heddeeuuhh, ringan betul kerjanya yak…
Anak pertama ganti 4 dokter. tiap dokter dibantu usg. Semua isi perut diterjemahkan dr mesin. dokter terakhir sebetulnya spesialis aborsi (gak enak sebut namanya tp kl tau kasusnya pasti inget). milih tuh dokter krn dokter sebelumnya bilang hrs dilahirkan lbh cepat, jd kita milih dia krn pengalamannya. Dia prakteknya gak pk mesin tp modal tangan yg diangnosa perut. Kayak buat kue, tuh perut diremek2. dipijet dimana. langsung dia jelasin dan disimpulin semua normal gak usah ikutin saran dokter yg laen, katanya. Dokter kandungan sekarang kan sdh beda…yah gitu deh
Jadi miris inget berita beberapa bulan lalu. Dukun beranak dilarang beroperasi lagi di Cilegon. Kalau saja mereka diberi pengetahuan bagaimana melahirkan dan merawat persalinan agar ibu dan bayinya sehat, tentu lebih bijak. Atau, mereka bisa menjadi Doula, seseorang yang membantu peran bidan supaya proses kelahiran lancar. Misalnya, memijat si Ibu, memberi minum saat persalinan bahkan membantu ibu merawat bayi. Peran Doula ini sudah populer di Singapura, Philipina dan beberapa negara Asia lainnya. Dan mereka cukup membantu.
waaaa…. aku nonton tayangan iki neng bama wingi bun, lagi arep takcritani.. ehh… kedisikan. huh!
jadi gimana klo kita pindah ke Bali ajah? hehehe…
Ahh, nonton bioskopnya telat siiii. Tiketnya anguuuss!!! pindah Bali? pindah kerja di Bali aja hyuuukkk…*wink-wink*