Sebuah Kelahiran Sunyi

Lebih dari sepekan sudah. Masa berkabung yang  sepatutnya tak perlu larut. Bergantian orang  datang padaku mengulurkan tangan ikut  berdukacita. Satu demi satu tangan mereka  kuterima. Dan tangan-tangan itu dingin.

Tak sedikit pula senyum mengulum di atas bibir  mereka. Barangkali senyum getir yang ditutupi  untuk sebuah penghiburan. Bahkan ucap sabar dan  tabah menjadi makin bersahabat denganku.

Udara yang kuhisap rasa-rasanya masih juga  berbau minyak bayi. Pada mata batinku masih  selalu terbayang-bayang tubuh mungilnya yang  tergeletak tanpa daya diatas ranjang  persalinan.

Jumat Wage, 6 Januari 2012. Dengan persalinan  normal yang tak kubayangkan sebelumnya.  Kesakitan yang berpilin-pilin, hentakan nafas  yang harus diatur sebagaimana rupa.

Ruang isolasi yang cukup luas itu penuh sesak  oleh rintihan, lenguhan panjang dan puji-pujian  untuk Tuhan. Tembok hijau muda, gorden polos  dan langit-langit yang tak terlalu tinggi,  seolah menghimpit dan membuatku terperangkap.  “Dapatkah kau bayangkan kesakitanku, Ayah…”  Suaraku makin parau. Kupaksakan bertanya kepada  suamiku yang sebenarnya hanya caraku mencari  pembenaran diri. “Tentu, lebih dari yang  kauduga Bun,”

Aku tahu ia sangat khawatir dengan perubahan  roman mukaku. Nampak sangat pucat, ujarnya. Berulang kali  pula ia tawarkan padaku makanan. Aku hampir  lupa bagaimana cara menelannya. Ia begitu  tabah.

Aku tahu, yang kuingat hanya bisa meliuk dan melilit menahan sakit. Ah, terbayang waktu Ibu melahirkan aku. Tentu sama dengan yang kurasakan sekarang. Terkutuklah bagi siapapun yang mengkhayalkan wanita-wanita yang mati saat melahirkan lalu menjadi hantu dengan berbagai macam nama. Sungguh hina pula mereka yang tak mau menghargai ibundanya melawan kesakitan yang sedemikian hebat kala melahirkan.

Tuhan, selamatkan aku. Beri kekuatan padaku untuk mendorongnya. Meski janin yang berada dalam rahimku sudah tak lagi membagi kekuatannya padaku.

Tabuh senja pukul tujuh lebih limabelas. Manusia anyaran itu tiba. Sempurna bentuk tubuhnya. Tak sejentikpun mataku sayu ketika kukeluarkan ia dalam sebuah kelahiran sunyi. Yang kukeluarkan bukan hanya jasad mati, tapi juga jiwa yang ternyata tak bisa kuraba kehadirannya.

“Tali pusar ini membikin simpul mati. Hanya dua senti di depan pusarnya.”

“Apakah karena air ketuban saya terlalu banyak seperti diagnosa dokter dua pekan lalu?”

“Tidak. Tidak. Semuanya normal. Bahkan tak kurang bobot bayi Ibu. Dua koma enam kilo.”

“Sudah lamakah detak jantungnya hilang?”

“Tubuhnya masih sempurna. Tak banyak cela. Mungkin baru kemarin. Persis sama saat Ibu tak merasakan gerakannya.”

“Lalu apa sebab?”

“Sungguh, ini sebuah kecelakaan yang tak bisa diduga. Baru pertama kali saya menemukan kasus seperti ini.”

Aku tunggui ia beberapa waktu. Tak habis pula kupandangi ia meski sekejap. Dalam keadaan tanpa daya itu, ia kelihatan semakin cantik. Tenang dan lelap.

Aku suka sekali dengan bibirmu, Nak. Tipis meranum yang selalu mengingatkanku pada Ayah.

Naya, ah, Naya, gadisku yang mungil berkulit beledu. Begini kau sekarang jadinya. Barangkali ia akan berkata, “Jangan satu titikpun air mata tercurah untukku, Bunda. Tak perlu meratap terlalu dalam, Ayah.”

Tuhan telah menjatuhkan sesuatu yang tentu sangat mungkin untukku. Siapa hendak gegabah menghakimi kuasa Tuhan. Bahwa Ia telah berencana sedemikian rupa, sama sekali bukanlah kehendakku.

Sesungguhnya kau gadis mungil yang patut dicintai. Tak ada cela, tak nampak cerca. Tak sekalipun kau merepotkan ayah bundamu selama sembilan bulan ini. Permata yang pernah membikin hidupku cemerlang, membikin aku berdebar akan lukisan wajah kami yang terpilin pada raut mukamu.

Untukmu Naya, aku telah menimangmu dalam rahimku, bercerita segala hal kepadamu, berdebar cemas dengan Ayah tentang jenis kelaminmu. Dan kau telah pergi, kini.

Tuhan telah mendekapmu hangat. Ia menyiapkan taman bermain yang maha indah. Kupastikan sudah, kau bermain gembira disana. Tertawa renyah, sungguh girang.

Nak, tunai sudah tugasku. Kau telah lahir disaat waktumu harus lahir. Tak maju hari ataupun mundur. Aku tak pernah bersalah padamu, Naya. Pun begitu juga kau padaku. Tak ada sedikitpun kesalahan. Hanya kecelakaan.

Ah, Naya…bahkan tangismu yang sesungguhnya aku tak pernah tahu…

 

-Jogjakarta, Jum’at Wage/ 6 Januari 2012/ 19.15 WIB/ RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta-

for our beloved girl that I ever saw: Naya Zahra Dahayu Winnasis [sleep tightly, dear...]

 

Advertisement
This entry was posted in Klinong-klinong. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s