Kondom itu Rasanya, hmmmm….

iStock_kondomerSembilan tahun lalu, saya terlibat kampanye ATM Kondom di Jogja. Bagian dari advokasi seks sehat dan bertanggungjawab. Masih seperti sekarang, waktu itu juga timbul pro-kontra. Bahkan pada saat kami -tim advokasi kesehatan reproduksi- membuka diskusi terbuka di toko buku Gramedia Jogja, yang hadir nggak hanya masyarakat peduli kesehatan tapi juga mereka para aktivis Islam garis keras. Rasanya ketar-ketir

Sampai sekarangpun saya masih juga heran. Kok ya kondom dikriminalisasi, dicap jahat setinggi langit. Kondom itu bukan penjahatnya lho. Kelompok ilmiah masih setuju bahwa lebih baik menunda seks atau lakukan mutual monogamy. Bahkan penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang utuh dan interaksi sosial yang baik akan membikin masyarakat sejahtera.

Saya memilih kondom dibandingkan alat kontrasepsi yang lain untuk merencanakan kehamilan. Suami saya tak berkeberatan dengan pilihan ini. Meski tiap kali beli kondom, dia selalu mendhawuh saya. It’s OK kok.

Penasaran memang, gimana sih rasanya pake kondom? hohoho, pengakuannya unik. “Rasanya seperti kalo liat film tapi saat bagian ending, compact disknya tiba-tiba rusak,” begitu dia bilang. Well, kalau laki-laki mau pake kondom, berarti dia tidak egois!

Dari dulu kondom terus saja kontroversial. Padahal kita maunya melihat kondom itu hanya sebagai salah satu alat kesehatan. Ini alat kontrasepsi pria. Coba bandingkan dengan pil KB, IUD. Kalau fungsinya untuk mencegah kehamilan, keduanya sama saja. Iklan pil KB di TV nggak harus ditentukan waktunya. Siang hari boleh saja diputar. Beda dengan kondom yang harus malam hari. Tapi sekarang ini sepertinya malah iklan kondom tidak ada. Saya nggak paham ada apa.

Pria bisa berpartisipasi menggunakan kontrasepsi dengan pemakaian kondom itu. Bahkan baru-baru ini, Sabatino Ventura dari Monash University, Australia menemukan pil kontrasepsi untuk pria meski masih dikaji efektifitasnya.

Selain alat pencegah kehamilan, kondom memang dipromosikan untuk mencegah PMS (penyakit menular seksual). Meski kemudian muncul kekhawatiran publik bahwa kondom dapat mendorong seks bebas. Kalau fungsinya begitu, mengapa pil KB tidak diprotes?

Mengutip analisa kawan lama, dr Ifta Choiriyah, sedikit sekali orang Indonesia yang menggunakan kondom. Bayangkan, penduduk Indonesia berjumlah 150 juta lebih sementara penjualan kondom hanya 25 juta per tahun.

Komunitas ilmiah tidak ada yang mengklaim efektifitas kondom itu 100 persen. Bahkan di kemasan kondom juga disebutkan begitu. Malah ada anjuran mutual monogamy pula.

Nah, pekan kondom nasional sekarang ini menurut saya nggak ada salahnya. Nafsiah Mboi juga tak perlu dikambinghitamkan. Yang saya tidak setuju adalah ketika kondom itu dibagikan gratis kepada semua umur tanpa kontrol. So, saya kira nggak perlu menolak pembagian kondom gratis. Yang perlu: tolak rokok gratis!

Posted in Jagongan | 2 Comments

Kencing

This gallery contains 8 photos.

“Kencing saja disitu. Tunggu dan lihatlah!” Perut saya tiba-tiba mual. Benar saja, berbondong-bondong kupu-kupu menghampiri kubangan air kencing tadi. Mereka seperti berebut kapling. Kemruyuk! Hei, tapi ini objek bagus. Kalau sedang musimnya, tiap pagi di tempat yang terkena cahaya matahari, … Continue reading

Gallery | Tagged , , , , | 3 Comments

Senja yang Menghidupkan

This gallery contains 5 photos.

Setahun penuh tinggal di barak, cukup membikin otak tak terhibur sama sekali. Bayangkan saja, berderet-deret kamar seluas 3×4 meter itu dipenuhi oleh lelaki-lelaki kesepian. Mending kalau greeny, lha ini sudah bau tanah semua. Dan saya, satu-satunya perempuan yang menghuni satu … Continue reading

Gallery | Tagged , , , , | Leave a comment

Karena Ibu Adalah Madrasah

Image

Perempuan itu istimewa. Peran mereka ada dalam berbagai hal. Keberadaannya adalah kunci. Saya perempuan. Tetapi tulisan ini bukan pembenaran atas peran mereka.

Sudah jamak jika perempuan selalu identik dengan makhluk lemah. Setujukah demikian? Seperti mata rantai yang tak putus saja. Tiap kali lelaki kecil menangis, maka yang terucap, “Hei, anak lelaki tak boleh menangis. Seperti anak perempuan saja,”. Atau kalimat begini, “Kamu lelaki harus bisa jagain perempuan,”. Ahhh, terdengar mengerikan!

Saya tak sedang membahas kesetaraan gender, emansipasi atau apapun itu istilahnya. Saya feminis. Tetapi pemahaman saya tentang ini bukan berarti perempuan ditempatkan betul-betul setara dengan lelaki dalam berbagai macam hal.

Boleh-boleh saja mereka menggugat peran perempuan yang selalu timpang dibanding lelaki. Tapi saya percaya kuasa Tuhan. Keduanya boleh setara namun dalam porsinya masing-masing. Ajaran agama yang saya yakini juga merujuk demikian. Bahkan dalam kitab kami, terdapat satu surat yang khusus membahas perempuan. Bisa terbayang, betapa sosok mereka sangat dihormati.

Lalu, siapa bilang jadi ibu itu adalah peran yang biasa-biasa saja, pilihan tak populer dan tak istimewa. Hentikan cemoohan itu. Sekali lagi peran mereka keren!

Oleh-Nya, ‘wadah ajaib’ itu disisipkan pada perempuan. Tuhan hanya memilih mereka. Disitulah maka manusia akan beranak pinak, bercucu bahkan berpiut.

Tiap-tiap bayi adalah kekuatan. Mereka manusia anyar tapi bukan liyan. Raganya pernah menyatu dengan ibu. Hanya perempuan hebatlah yang mampu melahirkan bayi-bayi istimewa itu.

Karena kodrat inilah maka perempuan harus istimewa. Ia mesti lebih tangguh dibanding lelaki. Ia harus lebih mandiri, lebih cekatan, lebih cerdas daripada lelaki.

Saya tidak sedang nyinyir dengan perempuan-perempuan yang mati-matian mengejar karir. Oke, itu hanya pilihan. Seorang ibu yang berkarir berarti mereka bekerja di ruang publik. Sementara ibu yang hanya di rumah saja, maka ia bekerja dalam lingkup domestik. Tak ada yang salah dengan pilihan itu. Semua punya konsekuensi masing-masing.

Generasi unggul terbentuk dari lingkup keluarga yang punya visi jelas dan konsisten dengan apa yang menjadi tujuannya. Dan ibu adalah kunci. Maka, mereka harus sekolah tinggi-tinggi. Supaya melek dunia. Ruang lingkupnya tak boleh hanya urusan dapur dan kasur saja. Yahh, pekerjaan domestik mestinya harus khatam lebih dulu.

Tunggu! Perempuan sekolah tinggi-tinggi selalu dianggap lelucon. Ada anggapan: untuk apa sekolah tinggi kalau pada akhirnya harus mengurus anak dan suami. Tetapi perempuan harus melakukannya. Bukankah seumur hidup adalah proses belajar? Apa guna jika ilmu yang telah kita telan hanya digunakan untuk memperpandai diri sendiri? Bukankah jika ilmu itu diturunkan maka akan berdayaguna?

Anak adalah investasi akhirat. Persiapan untuknya mesti kualitas terbaik. Ayah adalah komando sementara ibu berperan sebagai navigator. Itulah mengapa, seorang ibu haruslah perempuan hebat, cerdas dan yang tak kalah penting: TANGGUH!

Generasi bangsa ini harus berubah. Tak perlu berencana besar mengubah sistem negara. Itu terlewat susah. Mulai saja dalam lingkup keluarga, zona terkecil.

Maka, berbahagialah menjadi ibu. Perempuan yang selalu bersetia dengan kodratnya. Baik ibu yang memilih lingkup publik maupun domestik. Cerdaskanlah generasimu. Belajarlah segalanya selama hidup. Karena ibu adalah madrasah….

note : sadur gambar dari http://ceritasihejo.blogspot.com/2012/12/menuju-wajah-blog-impian.html

Posted in Jagongan | 2 Comments

Tentang Ia

Image

Pernahkah kau melihat bidadari? aku pernah, meski dengan mata batinku. Dia, bidadari kecil yang beranjak tumbuh. Sedang belajar menapakkan kaki di lantai surga. Tak sabar pula segera ingin mengibaskan sayap putihnya. Bahkan celotehnyapun tak kudengar jelas.
Bidadari mungil. Aku melihatnya seperti separuh nyawaku teronggok disana.

Tentang ia yang mengajariku mengusap air mata.
Tentang ia yang membisikkanku kesederhanaan.
Tentang ia yang selalu menghiburku dengan tarian bisu.
Tentang ia yang berbicara denganku dalam diam.
Tentang ia yang menemani kemasygulanku.
Tentang ia yang mencandaiku dalam riuh tak berkesudahan.
Tentang ia yang selalu ingin kurengkuh.
Tentang ia yang mengingatkanku berserah jiwa.
Tentang ia…
benih hidup yang pernah bersandar di rumah rahimku.

Terimakasih telah memelukku dalam perjalanan kita waktu itu. Aku rindu mengenalmu lagi, Naya…

Desember, 18-2012

Posted in Jagongan | 7 Comments

Barak Berbunga Bunga

Ada aktivitas baru. Guess what? Gardening, yayy! Ya, berkebun. Di antara rutinitas yang terpola, ruang publik terbatas, lagipula sedikit jauh dari peradaban, maka aktivitas macam ini sangat berharga. Sungguh.

Lalu, jangan dibayangkan berkebun seperti di majalah Trubus itu. Tanaman hias yang super terawat, halaman luas yang tertata rapi, settle. Hmmm, bukan. Bukan macam itu.

Hohoho, di depan kamar kami ada beranda kecil seluas 1,5 x 5 meter dengan 2 pilar kayu di tepi luarnya dan bangku kayu panjang teronggok di depan kamar. Disitulah saya dan Tuan Besar mulai merawat tanaman hias yang -saya yakin- akan segera nampak cantik itu.

Karakter cuaca di Taman Nasional Baluran cenderung kering. Tapi kami kukuh membawa tanaman-tanaman daerah pegunungan itu kesini. Termasuk anggrek yang butuh kelembaban penuh untuk merawatnya.

Apa saja sih yang kami bawa? Sebetulnya semua ingin dibawa. Tentu harus dipilih yang cocok untuk daerah kering. Kebanyakan tanaman indoor, seperti golongan Anthurium dengan segala macam spesiesnya.

Disini ternyata susah mendapatkan media tanam, pun pupuk khusus tanaman hias. Hampir-hampir tak ada toko itu. Di kota kecamatan Wonorejo-pun -yang menurut kami disanalah pusat ekonomi di wilayah terdekat- juga tak kutemukan. Barangkali di kota Banyuwangi sana. Wow, amat jauh!

Maka tak segan-segan kami membawa semua perlengkapan tanam, termasuk pot dan media itu dari rumah. Menenteng berkubik-kubik kardus dan harus berpindah-pindah bus ekonomi yang super duper hore di tengah terik panas di bulan puasa. Hwuuh, sakit jiwa!!!

Menurutku, suami yang hebat adalah dia yang punya stock cinta dengan tanaman. Dia yang bersedia merawat rindu dengan bunga. Hmmm, lovely person my beloved Ayah (meski lovely person-nya hilang timbul, ups*).

Hanya butuh ketelatenan saja untuk merawat ini. Dan tentu, sedikit gumam senandung supaya energi positif itu saling bersambut.

Lekas tumbuh sehat. Berbungalah riang gembira, maka kupu-kupu segera datanglah meramaikannya…:)

Posted in Jagongan | 2 Comments

FOBI : Berkawan Tangguh Menjaga Biodiversitas Indonesia

Puji Gusti, waktu itu saya bertemu dengan Karyadi Baskoro, dosen Fakultas Biologi Universitas Diponegoro. Berbarengan dengan acara Bird Watching Competition 3rd, Kang Bas -begitu ia akrab disapa- didapuk menjadi juri profesional dalam kompetisi yang dilaksanakan di Taman Nasional Baluran, dua pekan lalu.

Meski dosen, saya tak menangkap kesan ekslusif terhadapnya. Bagaimana tidak? berambut gondrong tapi tetap terjaga. Jadul banget dan itu pasti. Jaman sekarang sudah jarang saya temui laki-laki berambut panjang. Melankoliskah ia? ups, who know it. Sepanjang saya menemuinya, ia selalu mengenakan jas loreng kemanapun (terlintas di benak saya, jangan-jangan orang ini maniak militer, huehehe).

Dan satu hal, tak ada batas kasta ketika ia membaur bersama teman-teman pengamat burung lainnya. Gojeg kere ia lakoni dengan luwes. Sampai-sampai ia mentahbiskan dirinya sebagai ‘Free Man: Fly like a bird, Flow like a water, Gone with the wind‘. Wew! tak satupun mampu mengikatnya. Begitukah kawan? hohoho….Jargon ini saya temukan di laman maya miliknya yang sedang mati beragan 2 tahun lalu. Tampaknya mati, tapi semoga tidak.

Saya tak sedang membicarakan banyak tentang sosok yang menurut saya masih unpredictable itu. Sebenarnya supaya tak disangka sok tahu. Barangkali teman-teman pengamat burung lebih paham banyak daging dan tulang Kang Bas.

Baiklah, sebagai seorang akademisi -meski menurut saya ia salah satu anomali di dunianya- tentu obrolan kami sedikit banyak berbau analitik. Mulai dari fauna dengan detil-detil yang mendesak memori dan logika untuk berpikir lebih keras, hingga printilan-printilan gojeg kere tak jelas tadi.

Seketika tulisan Swiss Winnasis berjudul ‘Menjadi Citizen Scientist di Kawasan Konservasi’ yang ia posting di laman miliknya: ‘Baluran and Me’ mengisi penuh otak. Dan Kang Bas-lah menjadi sasaran penegasan itu.

Lalu mulailah ia memperkenalkan FOBI (Foto Biodiversitas Indonesia). Kisahnya bermula dari kegelisahan kawan-kawan penggiat sains yang terus menerus geram karena akses data keilmuwan di Indonesia sangat minim. Utamanya tentang keanekaragaman hayati flora maupun fauna. Setidaknya menurut mereka.

LIPI sebagai lembaga dengan otoritas tinggi bidang keilmuwan di Indonesia sepertinya mengunci diri. “Lama-lama mereka seperti dewa, merasa kaum sciense yang eksklusif,” ujar pencinta mati moda kereta api ini.

Nyatanya memang begitu. Peran LIPI yang seharusnya membumikan temuan ilmiah yang super duper njlimet itu seperti tong kosong. Kita bandingkan dengan Jepang. Bagaimana mereka mendekatkan sains kepada anak muda. Dan kenyataannya mereka mampu mencetak nobelis, Toshihide Masukawa dan Makoto Kobayashi, peraih Nobel Fisika 2008.

Mencetak nobelis bukanlah target utama reformasi pendidikan di Jepang. Namun mendorong kecintaan terhadap sains dan memfasilitasi ilmuwan-ilmuwan muda di universitas supaya menemukan hal-hal baru adalah tujuan utama proyek ini. Alokasi dana mereka untuk pengembangan sains dan teknologi tak lebih besar dari anggaran pendidikan kita. Mereka mengalokasikan 16,2 persen dari total anggaran.

Pada level pendidikan dasar dan menengah, guru-guru sains adalah tenaga pengajar bersertifikat yang terjamin keilmuan, kompetensi, dan kecintaannya kepada pengembangan ilmu. Kesemuanya tentu didukung dengan akses data dan informasi yang mudah. Bahwa bahasa Inggris sebagai bahasa sains internasional dirasa sangat memberatkan orang Jepang. Maka tak kalah akal, mereka menciptakan sendiri terminologi sains dan teknologi dalam bahasa Jepang. Literatur ilmiah juga diterjemahkan dengan sangat intensif.

Menukil apa yang ditulis Swiss, kesempatan membumikan sains bukan lagi omong kosong. Menjadi citizen sciense -saya tak kunjung menemukan padanan artinya dalam bahasa Indonesia- adalah salah satunya. Di Inggris, mereka menjadi komunitas yang cukup solid. Satu contoh untuk pengamat burung saja, di tiap desa atau distrik kecil selalu ada relawan sains. Mereka mengumpulkan data lalu mengelola dan mendistribusikannya untuk komunitas pengamat burung lain.

Nah, FOBI muncul menyasar celah berbelah ini. Laman nirlaba yang dikelola oleh segelintir orang-orang militan itu seperti menyumbang daya hidup. “Malah banyak mahasiswa yang memakai situs ini untuk identifikasi spesimen yang dia punya,” ujar Swiss, salah satu peng-ide FOBI bersama Kang Bas, mas Imam ‘Bionic’ dan beberapa kawan lain. Semoga ia tidak sedang masturbasi dengan pengakuannya sendiri.

“Mendapat sambutan yang cukup baik,” kata Kang Bas. LIPI menyambut suka cita, meski tetap ada beberapa gelintir orang yang mengukuhkan pandangannya akan sains. Pengakuan serupa dilontarkan Nurdin Setia Budi, mahasiswa UIN Yogyakarta yang saat itu sedang melaksanakan praktek kerja lapangan di Taman Nasional Baluran beberapa pekan lalu. “Mencari file-nya mudah, mencocokkan dengan spesimen yang kita temui juga tak susah. Membantu banget,” ujarnya.

Lalu bagaimana FOBI bekerja? cukup sederhana, mereka menerima semua hasil spesimen yang dikirim oleh kontributor. Spesimen yang dimaksud bukan melulu bentuk fisik. Tetapi foto digital. “Ini yang jadi perdebatan kami dengan LIPI,” tukas KB -saya mulai menggunakan inisial ini untuk almighty Kang Bas-. Bagaimana tidak, mereka mengabaikan identifikasi spesies berbekal foto. Bahwa prosedur yang diperbolehkan tak lain jika membawa wujud bendanya.

Namun, FOBI tak bekerja demikian. Justru modal utama identifikasi adalah foto. Tentu, foto yang dimaksud sesuai dengan kaidah identifikasi. Moderator-lah yang kemudian menetapkan identitas itu.

Tak heran, jika saat ini sudah lebih dari 20 ribu foto menjadi koleksi laman yang sejak 2010 lalu mulai aktif. Sedangkan jumlah pengunjung tercatat mencapai 39 ribu lebih. Eureka!

Setidak-tidaknya, mereka sanggup beranjak mengumpulkan  benda berharga biodiversitas Indonesia yang terserak disana-sini menjadi mega-database. Meski, benda mulia itu masih berada digenggaman tangan-tangan peneliti atau teronggok begitu saja tak terjamah. Siapa tak jengah lantas tutup muka saat harus susah payah ngubek-ubek laman negara asing hanya untuk mencari Kelomang. Hwohh!

Sungguh, pertemuan singkat dan obrolan tak serius itu memberi perspektif lain. Thanks God! Bravo tingkat dewa untuk FOBI…

Posted in Jagongan | 6 Comments