Dacia Maraini, Istana Bogor, dan Patung Telanjang

Perempuan sepuh (73 tahun) berambut pirang itu tak henti-hentinya memandangi lukisan karya Gustavo Montoya di Istana Bogor. Berkali-kali ia mendekati lukisan itu dan kemudian menjauh lagi. Ia memandang dengan sangat kagum. “Simpel dan tampak lugu. Saya sangat menyukainya,” ujarnya. Bahkan ia sempat meminta berfoto bersama karya itu.

Lukisan itu bergambar seorang anak kecil sedang duduk manis dan sedikit tersenyum. Pandangan matanya lurus ke depan, seolah mengajak berkomunikasi dengan orang yang melihatnya.

Dacia Maraini

Dacia Maraini

Dialah Dacia Maraini, penulis novel yang berfokus pada permasalahan perempuan dan anak. Karyanya yang terkenal di dunia adalah Woman at War (1975), yang dianggap sebagai manifesto gerakan feminis Italia.

Dengan kemeja putih dan pemulas mata berwarna biru laut, Maraini tampak lebih muda, meski langkahnya sudah mulai melambat. Ia bersama sastrawan dan budayawan dari dalam dan luar negeri berkunjung ke Istana Bogor, Selasa lalu pada acara pembukaan Biennale Sastra Utan Kayu 2009. Ia mengaku sangat terpesona dengan keindahan alam tropis karena perjalanan ini adalah kunjungan pertamanya ke Indonesia.

Maraini lahir di Fiesole, Tuscany, Italia, pada 13 November 1936. Ia adalah putri seorang ningrat, Sicilia. Selain penulis dan seniman, ia seorang pendaki gunung dan etnolog Firenze.

Pada 1938, keluarganya menyelamatkan diri dari gerakan fasis. Maraini dibawa ke Jepang. Mereka menghindari pemerintahan militer di Italia pada waktu itu dan memilih tinggal di barak pengungsian pada 1943 hingga 1947 di Jepang. Seusai perang, mereka kembali ke Bagheria, Palermo, Italia. “Saya tidak mengalami shock culture di Jepang karena waktu itu masih kecil. Justru saya mengalaminya saat kembali ke negara saya,” ujarnya.

Selain terpikat pada keindahan lukisan koleksi Bung Karno, perempuan berwajah bulat ini sangat terheran-heran pada pohon kepel. Buah yang kerap dikonsumsi bangsawan di kerajaan Jawa ini memiliki khasiat dapat menghilangkan bau badan.

Berjalan dan melihat isi Istana Bogor membuatnya merasa berada istana-istana Eropa. Istana Bogor, yang dikenal dengan sebutan Buitenzorg atau Sans Souci, yang berarti “tanpa kekhawatiran”, pernah hancur karena gempa bumi dahsyat pada 1834 akibat meletusnya Gunung Salak. “Arsitekturnya mirip dengan gaya Yunani,” ujar Darcia menunjuk kolom dinding.

Di gedung utama, Maraini kaget melihat koleksi patung telanjang setinggi manusia. Bagaimana tidak, patung-patung itu dibalut kain untuk menutupi tubuhnya. Tidak lagi telanjang. Ia sempat menanyakan mengapa patung tersebut tidak diperlihatkan sebagaimana aslinya. Pemandu istana mengatakan bahwa malam sebelum rombongan berkunjung, Istana Bogor dipergunakan untuk acara perpisahan mantan wakil presiden Jusuf Kalla. Banyak anak-anak dan ibu-ibu yang hadir. Atas alasan itulah, untuk sementara waktu patung tersebut diberi “baju”.

Mariani pernah menikah dengan seorang pelukis Milan, Lucio Pozzi. Pernikahan itu bertahan selama empat tahun saja. Kemudian ia bertemu dengan Alberto Moravia, novelis dan jurnalis tersohor Italia. Bersama Moravia, ia mendirikan kelompok teater del Porcospino (Porcupine) pada 1966 untuk menciptakan drama-drama Italia baru.

Pada 1973, Maraini mendirikan Teatro della Maddalena yang dikelola oleh perempuan di Roma. Lima tahun berikutnya, teater ini memainkan karyanya berjudul Dialogo di una prostituta con un suo cliente (Dialogue of a Prostitute and her Client). Karyanya ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris maupun Prancis dan dipentaskan di 12 negara.

Maraini begitu fokus terhadap isu-isu perempuan dan anak. Itulah sebabnya di Istana Bogor ia sangat mengagumi lukisan karya Gustavo Montoya dibanding lukisan Diego Rivera. “Saya mengenal Rivera yang ekspresionis. Tapi di sini saya tidak menemukan hal itu,” ujar Maraini. Lukisan Rivera koleksi Istana Bogor berjudul Wanita dan Bunga (1955). Lukisan tersebut menggambarkan seorang perempuan muda berkebaya merah dan berkain jarit sedang membawa bunga. “Sangat konvensional,” katanya.

Pada pembacaan dan diskusi sastra, Rabu lalu, ia membacakan karyanya, Woman at War, pada bagian The Ship for Kobe. Dengan bahasa Italia, ia mengisahkan tentang perjalanannya menuju Jepang pada waktu itu. Ayahnya memberikannya buku harian saat pelarian ke Jepang.

Karyanya yang lain adalah Isolina (1985), yaitu sebuah roman tentang kekerasan terhadap perempuan. Selain itu, The Silent Duchess (1990), perjalanan hidup si bisu Marianna Ucria, salah satu nenek buyut Sicilia. Ada pula Voices (1994), yang bercerita tentang detektif dengan latar belakang kejahatan terhadap perempuan yang tak pernah terungkap.

Begitu banyak kekerasan dan penindasan terhadap perempuan dan anak adalah alasan mengapa ia sangat teguh memperjuangkannya. “Saya memiliki rasa keadilan yang tinggi terhadap perempuan dan anak-anak,” ujarnya. Apalagi saat ini semakin banyak bentuk kekerasan itu terhadap mereka. “Seperti tak ada mula dan tak ada akhir,” ujarnya sambil menyeruput segelas teh hangat dan memandang hijaunya pepohonan di Kebun Raya Bogor, sore itu.

Ismi Wahid [Koran Tempo – 23 Oktober 2009]

This entry was posted in Tokoh. Bookmark the permalink.

Leave a comment